Lewati ke konten

Sudagaran News

  • Beranda
  • Blog
  • Kuliner
  • Opini

Pacar Bertahun-tahun vs Pria yang Melamar: Pilih Nyaman atau Kepastian?

Di sebuah sudut warung makan yang aroma rempahnya selalu berhasil memanggil ingatan, dua orang pemuda sedang asyik bertukar cerita. Asap tebal dari dapur belakang membumbung tipis, menyatu dengan riuh suara sendok dan piring yang beradu. Hari itu, pembicaraan mereka tidak jatuh pada topik yang berat-berat seperti fluktuasi ekonomi atau algoritma mesin pencari yang kerap berubah tanpa permisi.

Topiknya sederhana, tapi sanggup membuat dahi berkerut sekaligus tersenyum kecil: tentang jodoh, kepastian, dan takdir yang kerap bekerja dengan cara yang melompat-lompat.

“Lucu ya,” kata salah seorang dari mereka sambil mengaduk minumannya. “Kemarin di linimasa media sosial, ada yang bikin status begini: ‘Pilih bertahan sama pacar atau terima orang yang melamar, ya?’“

Temannya terkekeh pelan. “Ya jelas lucu. Itu seperti orang berdiri di depan pintu rumah yang sudah dibukakan kunci dan disajikan hidangan, tapi dia masih bingung mau masuk atau tetap nongkrong di pinggir jalan yang belum jelas ujungnya.”

Percakapan singkat di warung makan itu menjadi awal dari sebuah perenungan yang jauh lebih panjang. Tentang bagaimana manusia zaman sekarang sering kali terjebak dalam ilusi pilihan, hingga lupa membedakan mana kejelasan dan mana sekadar kenyamanan yang semu.

Lompatan Pertama: Tentang Doa di Samping Pelaminan

Mari kita tarik ingatan ke sebuah momen yang hampir selalu ada di setiap sudut negeri ini: majelis pernikahan. Di antara deretan ucapan selamat yang mengalir, ada satu kalimat doa yang sangat akrab di telinga, sebuah doa yang bersumber dari sunnah yang begitu mulia:

baˆrakallaˆhu laka wa baˆraka ‘alaika wa jama‘a bainakumaˆ fıˆ khair

“Semoga Allah memberkahimu di saat bahagia dan memberkahimu di saat sulit, serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.”

Coba renungkan sejenak. Kalimat itu tidak hanya mendoakan keberkahan saat hidup sedang manis-manisnya—saat rezeki lancar, senyum terkembang, dan pujian mengalir (bâraka laka). Doa itu dengan sangat jujur menyertakan permohonan keberkahan saat badai datang, saat jalan terasa sempit, dan saat ujian mengetuk pintu rumah tangga (bâraka ‘alaika).

Sebab, pernikahan bukanlah wahana permainan yang isinya hanya tawa. Ia adalah perahu kayu yang siap menerjang gelombang. Mengapa doa ini begitu penting? Karena keberkahan bukanlah tentang ketiadaan masalah, melainkan kehadiran rahmat Allah di tengah-tengah masalah tersebut.

Bagi mereka yang memahami kedalaman doa ini, melangkah ke jenjang pernikahan bukanlah keputusan yang diambil karena sekadar “enak dijalani”, melainkan karena adanya kesiapan untuk saling menggenggam—baik di puncak gunung maupun di dasar lembah.

Lompatan Kedua: Sepiring Nasi dan Hitung-hitungan Manusia

Lalu, pembicaraan di warung makan itu melompat lagi. Kali ini ke urusan yang lebih membumi: biaya dan persiapan.

Sering kali, niat baik untuk menyempurnakan separuh agama terhenti atau tertunda berlarut-larut hanya karena satu kata: biaya. Di kepala banyak orang, pernikahan identik dengan pesta megah, panggung berukir mahal, katering puluhan juta, dan gaun gemerlap yang menyedot seluruh tabungan masa depan.

Padahal, jika kita berani melihat dengan jernih, menyatukan dua insan dalam ikatan yang sah tidak pernah serumit itu. Di kota-kota kecil atau kabupaten, sebuah prosesi pernikahan yang khidmat, hangat, dan penuh rasa syukur bisa diwujudkan dengan sangat bersahaja.

Coba bayangkan sebuah acara bersahaja di rumah atau aula kecil:

  • Mahar dan cincin disiapkan sesuai kemampuan, tanpa harus memaksakan diri agar terlihat mentereng di mata tetangga.

  • Sajian makanan diolah dengan rasa persaudaraan—sebagian dari katering lokal, sebagian lagi dibantu oleh tetangga dan sanak saudara yang guyub (tradisi sinoman yang amat indah).

  • Undangan cukup disebar secara digital untuk kerabat sebaya, sementara beberapa lembar kertas cetak dikhususkan untuk para sesepuh sebagai bentuk rasa hormat.

Ketika dihitung secara saksama, biaya yang dibutuhkan tidak harus menghancurkan impian finansial masa depan. Yang membuat pernikahan terasa berat sering kali bukanlah tuntutan syariat, melainkan tuntutan gengsi dan pandangan orang lain.

Hikmahnya sederhana: jangan sampai biaya pesta yang hanya berlangsung beberapa jam menghabiskan energi dan tabungan untuk mengarungi kehidupan berpuluh-puluh tahun setelahnya. Pesta adalah sehari, sedangkan pernikahan adalah seumur hidup.

Lompatan Ketiga: Memandang Sebelum Melangkah (Nazhar)

Sekarang, mari melompat ke sebuah tradisi mulia yang sering kali disalahpahami oleh masyarakat modern: proses nazhar.

Di era ketika orang bisa berkenalan lewat sapuan jempol di layar ponsel, berpacaran bertahun-tahun tanpa arah, atau saling bertukar janji manis di kolom komentar, syariat Islam sebenarnya sudah menyediakan jalur perkenalan yang paling elegan dan menjaga kehormatan: nazhar (melihat calon pasangan).

Dalam manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah—sebagaimana teladan As-Salaf As-Shalih—nazhar bukanlah tindakan canggung apalagi kuno. Ia adalah perintah yang langsung diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.

Ketika seorang sahabat hendak meminang wanita, Nabi ﷺ bersabda:

“Lihatlah dia terlebih dahulu, karena hal itu akan lebih mengekalkan hubungan (kasih sayang) di antara kalian berdua.” (HR. Tirmidzi)

Proses nazhar adalah pertemuan yang bermartabat. Tidak ada khalwat (berduaan di tempat sepi), tidak ada obral janji palsu. Pria datang ke rumah wanita dengan niat yang jelas, didampingi oleh mahram. Sang pria berhak melihat calon istrinya secara langsung—wajah dan telapak tangannya—agar tumbuh rasa tertarik dan keyakinan di dalam hati.

Jika setelah nazhar merasa ada kecocokan di dalam jiwa dan fisik, proses dilanjutkan ke tahap khitbah (lamaran). Namun, jika ternyata rasa itu tidak hadir, kedua belah pihak berpisah secara baik-baik tanpa ada yang merasa dimanfaatkan, dan wajib hukumnya saling menjaga keburukan atau rahasia masing-masing.

Bandingkan proses yang begitu indah dan menjaga kehormatan ini dengan fenomena pacaran tanpa kejelasan: bertahun-tahun menghabiskan waktu, rasa, dan biaya, namun pada akhirnya tidak tahu apakah akan berlabuh di pelaminan atau sekadar menjadi “penjaga jodoh orang lain”.

Lompatan Keempat: Ironi di Layar Kaca Ponsel

Dan di sinilah kita kembali pada cerita awal: status di media sosial yang mengundang tawa sekaligus keprihatinan.

“Pilih bertahan sama pacar atau orang yang melamar?”

Mengapa kalimat ini terasa begitu ironis?

Sebab, di dalam kalimat pendek itu, tersembunyi sebuah ketidakdewasaan dalam memandang komitmen.

  1. Keberanian vs Wacana Seseorang yang datang melamar ke rumah—menghadap orang tua, membawa iktikad baik, dan siap mempertanggungjawabkan pilihannya secara legal dan agama—sedang menawarkan kepastian. Sementara seorang pacar yang belum berani mengambil langkah nyata baru memberikan harapan. Membingungkan kedua hal ini ibarat menukar emas yang sudah ada di genggaman dengan bayangan pohon yang rindang di kejauhan.

  2. Pernikahan adalah Soal Kesiapan Mental Ketika seseorang masih merasa galau dan menjadikannya bahan lelucon atau konsumsi publik di media sosial, itu adalah sinyal terang benderang bahwa hatinya belum siap. Ia masih menikmati dinamika emosional hubungan tanpa ikatan, tetapi di saat yang sama tergiur oleh status pernikahan.

  3. Kebaikan untuk Sang Pria yang Melamar Dilihat dari sudut pandang pria yang datang melamar, jika ia mengetahui wanita yang dilamarnya masih sibuk menimbang-nimbang antara dirinya dan sang pacar di media sosial, itu sebenarnya sebuah tanda dari Allah. Tanda untuk berpikir ulang: Apakah ini wanita yang siap diajak mengarungi bahtera rumah tangga dan didoakan dengan “bârakallâhu laka wa bâraka ‘alaika”?

Menutup Catatan: Hikmah di Balik Lompatan

Jika kita menyatukan potongan-potongan kisah yang melompat ini—dari doa pernikahan di pelaminan, hitungan anggaran di kota kecil, syariat nazhar yang penuh keagungan, hingga dinamika status sosmed masa kini—kita akan menemukan satu benang merah yang sangat jelas:

Kehidupan ini terlalu berharga untuk dihabiskan dalam ketidakpastian.

Agama ini telah mengajarkan alur yang begitu rapi dan indah:

  • Jika ada niat baik, tempuhlah jalan yang mulia.

  • Kenali calonmu melalui jalur yang menjaga kehormatan (ta’aruf dan nazhar).

  • Sesuaikan perayaan dengan kemampuan, tanpa membebankan diri pada hal-hal yang tidak wajib.

  • Dan ketika kepastian itu datang dalam bentuk lamaran yang sah, buatlah keputusan dengan kedewasaan, bukan dengan kebingungan anak kecil yang takut kehilangan mainannya.

Dunia modern sering kali mengagungkan “proses yang panjang tanpa ujung” atas nama cinta. Padahal, cinta yang sejati tidak pernah takut pada komitmen. Cinta yang sejati justru terburu-buru ingin menghalalkan, ingin mendoakan, dan ingin duduk bersama di pelaminan sambil mengamini doa:

Semoga Allah memberkahimu di saat bahagia dan memberkahimu di saat sulit…

Maka, untuk siapa pun yang hari ini sedang berdiri di persimpangan jalan: jangan bertukar kepastian dengan keraguan. Pilih jalan yang jelas, melangkah dengan mantap, dan biarkan sisanya diurus oleh Yang Maha Mengatur Takdir.


26 Juli 2026

Menu

  • Beranda
  • Blog
  • Kuliner
  • Opini

Kontak

alswerte@gmail.com
(+1) 23456789

Media Sosial

  • Facebook
  • Instagram
  • TikTok

Subscribe newsletter kami

Formulir berlangganan tidak tersedia saat ini

© 2026 Sudagaran News. All rights reserved.