Jawa Tengah kembali menghadapi ancaman kekeringan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 25 kabupaten/kota di Jawa Tengah berada dalam status Awas kekeringan meteorologis pada periode Dasarian I September 2026, yakni 1–10 September.
Salah satu wilayah yang masuk dalam daftar tersebut adalah Kabupaten Banyumas. Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena kekeringan yang berlangsung panjang dapat berdampak terhadap ketersediaan air bersih, pertanian, hingga aktivitas masyarakat sehari-hari.
Selain Banyumas, sejumlah daerah lain yang masuk status Awas antara lain Cilacap, Purbalingga, Kebumen, Banjarnegara, Brebes, Tegal, Klaten, Wonogiri, Grobogan, Blora, Pati, Kudus, dan Demak.
Apa Arti Status Awas?
Gambar ilustrasi
Status Awas merupakan tingkat paling kritis dalam pemantauan kekeringan meteorologis. Salah satu indikatornya adalah wilayah mengalami tidak turun hujan selama minimal 61 hari berturut-turut.
BMKG juga memantau rendahnya potensi curah hujan dalam periode tersebut. Jika kondisi kering terus berlanjut, masyarakat di sejumlah wilayah berpotensi menghadapi semakin terbatasnya sumber air.
Dampak kekeringan bukan hanya soal sulit mendapatkan air untuk kebutuhan rumah tangga. Sektor pertanian juga menjadi salah satu yang paling rentan terdampak karena tanaman membutuhkan pasokan air yang cukup.
Di wilayah yang sumber airnya mulai menipis, kebutuhan distribusi air bersih juga dapat meningkat. Pemerintah daerah bersama berbagai pihak perlu bersiap apabila masyarakat mulai mengalami kesulitan memperoleh air.
Banyumas Perlu Waspada
Masuknya Banyumas dalam daftar wilayah berstatus Awas menjadi perhatian tersendiri bagi masyarakat setempat. Warga diimbau lebih bijak menggunakan air dan tidak menggunakannya secara berlebihan.
Masyarakat juga perlu terus mengikuti perkembangan informasi cuaca dari BMKG serta informasi pemerintah daerah mengenai kondisi kekeringan.
Status Awas bukan berarti seluruh wilayah langsung mengalami krisis air. Namun, kondisi tersebut merupakan peringatan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan kemarau yang masih berlanjut.
Dengan menghemat penggunaan air dan meningkatkan kesiapan menghadapi dampak kekeringan, risiko yang ditimbulkan dari kondisi kering berkepanjangan diharapkan dapat ditekan.
Sumber Referensi : ANTARA, berdasarkan keterangan BMKG.