Jika kita berbicara tentang literatur fiksi populer, dunia ini penuh dengan para pencerita genius yang membangun semesta mereka dari riset ketat, imajinasi, atau bahkan “menumpang” nama besar orang lain.
Sebelumnya, mari kita ingat kembali bagaimana novel-novel bergenre khusus dibangun:
-
Harlequin menjual mimpi manis tentang romansa pria kaya bertemu wanita sederhana. Ceritanya terstruktur, formulaik, dan menjamin akhir cerita yang memanjakan perasaan pembaca (Happily Ever After).
-
Alfred Hitchcock dieksploitasi namanya oleh penerbit Random House untuk serial populer The Three Investigators (Trio Detektif karya asli Robert Arthur Jr.). Nama sang sutradara “Master of Suspense” itu dijadikan jaminan mutu demi menyedot perhatian generasi muda, lengkap dengan cameo fiksi dirinya di dalam cerita.
Namun, bila dibandingkan dengan dua contoh di atas, Karl May berada di tingkatan yang sama sekali berbeda.
Jika Harlequin adalah murni fantasi manis, dan Hitchcock versi Trio Detektif adalah taktik pemasaran lisensi yang disetujui, maka Karl May adalah maestro kebohongan publik, manipulasi citra, dan penipu ulung yang paling dicintai dalam sejarah sastra dunia.
Bagi generasi pembaca Indonesia tahun 70-an hingga 90-an yang tumbuh bersama terbitan khas sampul kuning Pradnya Paramita, nama “Dr. Karl May” adalah jaminan kisah petualangan luar biasa. Kisah patriotik Winnetou si kepala suku Apache dan sahabat karibnya, Old Shatterhand, terasa begitu nyata, begitu megah, dan penuh dengan detail geografis Amerika Serikat abad ke-19 yang mengagumkan.
Namun di balik jutaan eksemplar novelnya yang terjual di seluruh dunia, tersembunyi skandal epic yang bisa membuat siapapun menggelengkan kepala.
1. Menulis Wild West Amerika Tanpa Pernah Menginjakkan Kaki di Sana
Bayangkan seorang penulis mampu menggambarkan lanskap gersang padang rumput prairie, ngarai-ngarai terjal di New Mexico, hingga tata cara adat budaya suku-suku Native American dengan sangat rinci, emosional, dan meyakinkan. Pembaca di seluruh dunia bersumpah bahwa sang penulis pasti telah menghabiskan setengah hidupnya berkelana menunggang kuda di pedalaman Amerika Serikat.
Faktanya: Karl May menulis semua buku petualangan Wild West-nya dari sebuah kamar di Jerman, tanpa pernah sekalipun melangkah ke Amerika.
Saat ia menciptakan sosok Old Shatterhand, Winnetou, dan rentetan senjata legendaris Henrystutze (senapan Henry), May belum pernah menyeberangi Samudra Atlantik. Ia membangun seluruh dunia Wild West tersebut murni berbekal:
-
Peta atlas geografi,
-
Buku-buku etnografi dari perpustakaan,
-
Kamus bahasa suku Indian lokal, dan
-
Imajinasi tingkat dewa yang lahir dari isolasi.
Ia baru benar-benar mengunjungi benua Amerika pada tahun 1908 di usia 66 tahun—puluhan tahun setelah novel-novel utamanya diterbitkan dan ia sudah menjadi jutawan. Dan ironisnya, kunjungan singkat itu pun hanya sampai di kawasan perkotaan timur seperti New York dan Buffalo/Niagara. Ia sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki di alam liar Amerika Barat yang selama ini ia agungkan!
2. “Old Shatterhand Adalah Saya!”: Halusinasi atau Self-Branding Ekstrem?
Jika sekadar menulis fiksi berdasarkan riset perpustakaan, itu adalah hal wajar bagi seorang novelis. Yang membuat kasus Karl May menjadi epic adalah tindakan melampaui batas yang ia lakukan setelah bukunya populer: ia mengklaim bahwa semua cerita itu nyata dan dialami oleh dirinya sendiri.
Karl May mempropagandakan kepada publik bahwa Old Shatterhand—pahlawan berkulit putih yang jago berkelahi dengan pukulan satu kali tumbang dan bersahabat erat dengan Winnetou—adalah alter ego dirinya sendiri.
Guna meyakinkan pembaca dan media masa pada era itu, May melakukan hal-hal gila:
-
Ia memesan senapan khusus buatan pengrajin yang disesuaikan dengan deskripsi senapan fiktif Henrystutze dan Bärentöter (Pembunuh Beruang).
-
Ia membuat kostum kulit ala koboi lengkap dengan rumbai-rumbai, lalu menyewa fotografer untuk mengambil posenya sedang berpose seperti petualang tangguh.
-
Fotografi tersebut ia bagikan kepada para penggemarnya sebagai “bukti sejarah” petualangannya di Amerika.
-
Saat menulis cerita berlatar Timur Tengah (Kara Ben Nemsi), ia juga mengaku mahir berbicara dalam puluhan bahasa Arab dan Persia secara fasih—yang tentu saja merupakan klaim kosong semata.
Pembaca pada akhir abad ke-19 menelan mentah-mentah kebohongan ini. Karl May bukan sekadar penulis bagi mereka; ia adalah pahlawan hidup.
3. Dari Penjara Menuju Puncak Implusi Kemasyhuran
Bagaimana seorang pria yang tidak pernah ke Amerika bisa memiliki waktu untuk membaca ratusan buku riset dan mengarang kebohongan sesempurna itu? Jawabannya tragis sekaligus menggelitik: di dalam penjara.
Sebelum terkenal sebagai novelis, Karl May muda adalah seorang kriminal kawakan. Masa mudanya dipenuhi dengan kasus pencurian kecil, penipuan, hingga penyalahgunaan wewenang. Akibat aksi-aksinya itu, ia menghabiskan total sekitar 8 hingga 10 tahun hidupnya masuk-keluar penjara di Saxony, Jerman.
Namun, jeruji besi justru menjadi kawah candradimuka bagi bakat terpendamnya. Di dalam perpustakaan penjara, May menghabiskan waktu bertahun-tahun membaca puluhan buku geografi, etnologi, dan petualangan. Di situlah imajinasinya melesat tinggi melintasi tembok penjara, menciptakan dunia di mana ia bukan lagi seorang pesakitan yang terbuang, melainkan seorang pahlawan tangguh pujaan suku Indian.
4. Gelar “Dr.” Palsu yang Membongkar Segalanya
Puncak dari komedi kebohongan Karl May adalah perihal gelar akademisnya. Di sampul-sampul buku terbitannya—termasuk yang beredar di Indonesia—namanya hampir selalu ditulis sebagai Dr. Karl May.
Apakah dia seorang doktor? Sama sekali bukan.
May bahkan tidak pernah menuntaskan pendidikan tinggi karena izin mengajar tingkat dasarnya dicabut akibat kasus pencurian jam saku di masa muda. Namun, setelah kaya dan terkenal, ia mulai menggunakan kartu nama bergelar “Dr. Karl May” dan mengaku mendapat gelar Doctor of Philosophy (Dr. phil.).
Ketika surat kabar dan kritikus sastra mulai mencium aroma kebohongan ini pada awal tahun 1900-an dan menuntut bukti ijazah, situasi menjadi panik. Istri keduanya, Klara, berusaha menyembunyikan kebohongan tersebut dengan cara membeli sertifikat Doctor honoris causa dari sebuah lembaga bernama Universitas Germana-Americana di Chicago pada tahun 1902.
Sayangnya bagi May, lembaga tersebut ternyata adalah pabrik ijazah palsu (degree mill) yang tidak diakui secara hukum maupun akademis. Skandal ini pecah di pers Jerman, membongkar seluruh masa lalu Karl May:
-
Bahwa ia adalah mantan narapidana.
-
Bahwa ia tidak pernah ke Amerika.
Universitas Atma Jaya Yogyakarta -
Bahwa gelar doktornya adalah palsu.
Skandal ini menghancurkan kesehatan fisik dan mental Karl May di sisa-sisa akhir hidupnya sebelum ia wafat pada tahun 1912.
Membandingkan Karl May dengan Para Maestro Lainnya
Untuk memahami betapa uniknya fenomena Karl May, kita bisa menyandingkannya dalam peta literatur populer:
+-------------------+---------------------------+-----------------------------------+-----------------------------------+
| Kriteria | Harlequin Romance | Alfred Hitchcock (Trio Detektif) | "Dr." Karl May |
+-------------------+---------------------------+-----------------------------------+-----------------------------------+
| Fokus & Genre | Romansa Manis, Drama Cinta| Misteri, Suspense, Detektif Muda | Petualangan Wild West & Eksotisme |
| Realitas Cerita | Murni Fiksi Murni | Fiksi (Meminjam Nama Tokoh Nyata) | Fiksi yang Diakui sebagai "Kisah |
| | | | Nyata Pengarang" |
| Pengalaman Penulis| Berdasarkan Fantasi Penulis| Robert Arthur Jr. Menulis Riset | Nol Pengalaman Lapangan (Hanya |
| Lapangan | Formulaik | & Eksploitasi Brand Hitchcock | Riset Perpustakaan Penjara) |
| Status Tokoh Utama| Karakter Fiktif | Cameo Fiksi dari Tokoh Asli | Pengarang Mengaku SEBAGAI Tokoh |
| | | | Utama (Old Shatterhand) |
| Tingkat Kebohongan| Tidak Ada (Murni Hiburan) | Strategi Pemasaran Lisensi Nama | Kebohongan Publik Kompleks & |
| Publik | | | Gelar Akademis Palsu |
+-------------------+---------------------------+-----------------------------------+-----------------------------------+
-
Beda dengan Harlequin: Penulis novel Harlequin tidak pernah berpura-pura bahwa mereka adalah milioner yang sedang jatuh cinta di atas kapal pesiar. Pembaca menyadari penuh bahwa buku tersebut adalah bentuk “eskapisme” atau pelarian hiburan sejenak dari dunia nyata. Harlequin menjual fantasi manis tanpa ada unsur penipuan identitas pengarang.
-
Beda dengan Trio Detektif (Alfred Hitchcock): Dalam kasus The Three Investigators, penerbit menggunakan nama Hitchcock dengan lisensi resmi sebagai gimmick pemasaran. Hitchcock sendiri tahu namanya dipakai dan ia dibayar untuk itu. Karakter Jupiter Jones dan kawan-kawan tidak pernah diklaim sebagai sosok nyata oleh sang penulis asli, Robert Arthur Jr. Itu adalah manipulasi bisnis pasar komersial yang legal.
-
Karl May Adalah Penyair Ilusi: Karl May melangkah jauh melampaui etika penulisan pada zamannya. Ia tidak hanya menjual cerita; ia menyatukan jiwanya dengan karakter fiktifnya. Ia melakukan pembohongan publik berskala internasional, mengenakan kostum, memalsukan riwayat hidup, hingga membeli gelar doktor demi mempertahankan ilusi ciptaannya.
Pemda DIY
Mengapa Kebohongannya Tetap Dimaafkan Sejarah?
Anehnya, meskipun skandal Karl May terbongkar hebat di penghujung hidupnya, karya-karyanya tidak lantas dimusnahkan atau dilupakan. Malahan, buku-bukunya menjadi karya klasik legendaris.
Albert Einstein, Hermann Hesse, hingga Kaiser Wilhelm II diakui sebagai pengagum berat karya-karya Karl May. Bahkan di Indonesia, terjemahan petualangan Winnetou dan Old Shatterhand memikat hati ribuan pembaca lintas generasi.
Mengapa publik memaafkan kebohongan epic seorang “Dr.” Karl May?
Karena pada akhirnya, pembaca menyadari satu hal: Karl May mungkin seorang penipu dan pembohong besar di dunia nyata, tetapi di dalam dunia literatur, ia adalah seorang pencerita yang genius.
Lewat kelihaian jemarinya di atas mesin tik, seorang mantan narapidana yang belum pernah keluar dari negerinya berhasil membawa jutaan manusia melintasi batas samudra, menunggang kuda menyusuri padang rumput Wild West, dan merasakan kehangatan persahabatan sejati di bawah langit Amerika. Dan untuk sebuah karya seni sastra yang begitu menyentuh jiwa, publik merelakan diri mereka untuk “ditipu” dengan senang hati.