Fenomena yang Semakin Marak
Di tengah derasnya arus hiburan modern, banyak kaum muslimin mulai mencari alternatif yang dianggap lebih aman bagi agama mereka. Sebagian meninggalkan lagu-lagu populer yang penuh dengan kisah cinta, lirik maksiat, atau bahkan ungkapan yang bertentangan dengan tauhid. Sebagai gantinya, mereka beralih kepada nasyid.
Fenomena ini bukan sesuatu yang baru. Sejak beberapa dekade terakhir, nasyid berkembang menjadi salah satu bentuk hiburan yang cukup populer di kalangan kaum muslimin. Ada yang mendengarkannya saat berkendara, bekerja, berolahraga, atau sekadar mengisi waktu luang.
Bahkan tidak sedikit yang beranggapan bahwa nasyid adalah “versi Islami” dari musik dan lagu. Sebagian lainnya menganggap nasyid sebagai sarana dakwah yang efektif, terutama bagi generasi muda.
Namun pertanyaannya adalah: sampai di mana batasannya?
Apakah nasyid memang dapat dijadikan pengganti lagu? Apakah ia termasuk ibadah? Apakah ia dapat menjadi sarana utama pembinaan umat? Ataukah ada batas-batas yang perlu diperhatikan agar seorang muslim tidak terjatuh ke dalam sikap berlebihan?
Tulisan ini mencoba membahas persoalan tersebut dengan pendekatan yang tenang, proporsional, dan berdasarkan prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Mengapa Banyak Orang Beralih ke Nasyid?
Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak orang yang pertama kali mengenal nasyid justru karena keinginan untuk menjauhi lagu-lagu yang buruk.
Mereka melihat adanya perbedaan yang cukup jelas.
Di satu sisi terdapat lagu-lagu yang berisi:
- Kisah cinta yang melalaikan.
- Ajakan kepada pergaulan bebas.
- Syair yang mengandung kesyirikan.
- Kata-kata kasar dan tidak senonoh.
- Gaya hidup yang jauh dari nilai Islam.
Di sisi lain terdapat nasyid yang berbicara tentang:
- Semangat beribadah.
- Kecintaan kepada orang tua.
- Persaudaraan sesama muslim.
- Keindahan akhlak.
- Motivasi dan perjuangan hidup.
Secara umum, tentu ada perbedaan yang nyata antara keduanya.
Karena itu, ketika seseorang meninggalkan lagu-lagu maksiat lalu beralih kepada nasyid yang liriknya baik, hal tersebut patut diapresiasi sebagai langkah menuju kebaikan.
Namun persoalan tidak berhenti di situ.
Sebab sesuatu yang lebih baik dari keburukan belum tentu merupakan sesuatu yang paling utama.
Tidak Semua yang Mubah Menjadi Tujuan
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menjadikan sesuatu yang mubah seolah-olah menjadi tujuan utama.
Dalam Islam, ada banyak perkara yang hukumnya mubah:
- Makan.
- Minum.
- Tidur.
- Rekreasi.
- Olahraga.
- Berbagai bentuk hiburan yang tidak melanggar syariat.
Semua itu boleh.
Namun tidak ada seorang muslim yang menjadikan makan sebagai tujuan hidupnya.
Tidak ada seorang mukmin yang menjadikan tidur sebagai cita-cita tertingginya.
Mengapa?
Karena semua itu hanyalah sarana.
Begitu pula dengan nasyid.
Kalaupun seseorang menganggapnya mubah, maka kedudukannya tetap sebagai sarana, bukan tujuan.
Masalah mulai muncul ketika sarana berubah menjadi pusat perhatian.
Ketika Nasyid Mengambil Posisi Al-Qur’an
Salah satu kritik yang sering disampaikan para ulama adalah ketika nasyid mulai mengambil ruang yang seharusnya diisi oleh Al-Qur’an.
Fenomena ini cukup mudah ditemukan.
Ada orang yang hafal puluhan lirik nasyid.
Namun ia kesulitan menghafal surat-surat pendek.
Ada yang mengikuti perkembangan grup nasyid favoritnya.
Namun tidak mengetahui isi kitab yang sedang dipelajari para ulama.
Ada yang berjam-jam mendengarkan nasyid.
Namun merasa berat jika diminta membaca Al-Qur’an selama beberapa menit.
Masalahnya bukan pada nasyid semata.
Masalahnya adalah ketika hati mulai lebih terikat kepada syair manusia dibandingkan Kalamullah.
Padahal Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk, obat, cahaya, dan sumber ketenangan bagi hati.
Tidak ada nasyid yang mampu menggantikan fungsi tersebut.
Tidak ada syair manusia yang dapat menyamai keagungan firman Allah.
Karena itu, para ulama selalu mengingatkan agar seorang muslim tidak menukar makanan utama hatinya dengan sesuatu yang hanya bersifat pelengkap.
Nasyid Bukan Ibadah
Poin penting berikutnya adalah memahami bahwa nasyid bukanlah ibadah yang disyariatkan.
Ibadah memiliki dasar yang jelas dari Al-Qur’an dan Sunnah.
Shalat adalah ibadah.
Puasa adalah ibadah.
Dzikir adalah ibadah.
Tilawah Al-Qur’an adalah ibadah.
Sedangkan nasyid tidak pernah disyariatkan sebagai ritual pendekatan diri kepada Allah.
Karena itu, seseorang tidak boleh meyakini bahwa mendengarkan nasyid memiliki keutamaan khusus yang tidak pernah diajarkan Nabi ﷺ.
Apalagi jika sampai menganggap nasyid sebagai pengganti dzikir.
Atau menganggap nasyid sebagai metode utama untuk melembutkan hati.
Atau menjadikannya bagian rutin dari kegiatan keagamaan yang diyakini memiliki nilai ibadah tersendiri.
Semua keyakinan semacam ini memerlukan dalil.
Dan dalam masalah ibadah, tidak boleh seseorang beribadah kepada Allah berdasarkan selera, perasaan, atau kebiasaan masyarakat.
Pelajaran dari Generasi Sahabat
Jika kita melihat kehidupan para sahabat, kita akan menemukan bahwa generasi terbaik umat ini dibina dengan Al-Qur’an.
Mereka menangis karena ayat.
Mereka bersemangat karena ayat.
Mereka bersabar karena ayat.
Mereka berjihad karena ayat.
Mereka memperbaiki akhlak karena ayat.
Yang mengubah mereka bukan konser.
Bukan pertunjukan.
Bukan syair yang dinyanyikan secara rutin.
Melainkan wahyu yang turun dari langit.
Inilah sebabnya para ulama salaf sangat menekankan pentingnya kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber utama pembinaan jiwa.
Bukan berarti mereka menolak segala bentuk syair.
Sebab syair yang baik telah dikenal sejak masa Nabi ﷺ.
Namun syair tidak pernah dijadikan fondasi pendidikan umat.
Antara Keringanan dan Berlebihan
Ahlus Sunnah memiliki prinsip yang indah: tidak berlebihan ke kanan dan tidak berlebihan ke kiri.
Dalam masalah nasyid, terdapat dua kelompok yang sering terjatuh ke dalam sikap ekstrem.
Kelompok pertama menganggap seluruh nasyid sebagai sesuatu yang pasti haram tanpa rincian.
Kelompok kedua menganggap nasyid sebagai sarana dakwah terbaik dan hampir tidak memiliki batasan.
Pendekatan yang lebih dekat kepada keadilan adalah melihat setiap perkara sesuai porsinya.
Jika ada nasyid yang liriknya baik dan tidak mengandung pelanggaran syariat, maka tidak perlu dibesar-besarkan seolah ia adalah ancaman terbesar umat.
Namun di sisi lain, tidak boleh pula diangkat sedemikian tinggi hingga menempati posisi yang tidak pernah diberikan oleh syariat.
Keseimbangan inilah yang menjadi ciri Ahlus Sunnah.
Ketika Nasyid Berubah Menjadi Industri Hiburan
Persoalan lain yang perlu dicermati adalah ketika nasyid mulai kehilangan identitas awalnya.
Sebagian kelompok awalnya ingin menghadirkan alternatif yang lebih baik dari lagu-lagu maksiat.
Namun seiring waktu, sebagian nasyid berubah menjadi industri hiburan yang tidak jauh berbeda dengan dunia musik yang ingin ditinggalkan.
Mulailah muncul:
- Fanatisme terhadap artis.
- Perlombaan popularitas.
- Panggung megah.
- Pengkultusan figur.
- Persaingan jumlah penggemar.
- Orientasi komersial yang berlebihan.
Akhirnya yang berubah hanyalah liriknya.
Sedangkan budaya hiburannya tetap sama.
Padahal tujuan awalnya adalah mengurangi ketergantungan manusia terhadap hiburan yang melalaikan.
Ketika seseorang tidak lagi bisa hidup tanpa mendengarkan nasyid setiap hari, maka ia perlu bertanya kepada dirinya sendiri:
“Apakah saya sedang mencari manfaat atau sekadar mencari candu dalam bentuk yang berbeda?”
Sebagai Sarana Transisi
Meskipun demikian, ada satu sisi yang juga perlu dipahami.
Tidak semua orang berada pada tingkat keimanan yang sama.
Ada orang yang baru mengenal Islam.
Ada yang baru bertaubat.
Ada yang baru meninggalkan kebiasaan mendengarkan musik bertahun-tahun.
Dalam kondisi seperti ini, sebagian ulama memandang bahwa keberadaan nasyid dapat menjadi sarana transisi menuju keadaan yang lebih baik.
Seseorang yang sebelumnya menghabiskan berjam-jam mendengarkan lagu-lagu maksiat mungkin belum langsung mampu menggantinya dengan tilawah Al-Qur’an sepanjang hari.
Di sinilah sebagian orang memanfaatkan nasyid sebagai jembatan.
Namun jembatan bukan tujuan.
Jembatan digunakan untuk menyeberang.
Setelah sampai, seseorang tidak tinggal di atas jembatan selamanya.
Begitu pula nasyid.
Jika memang digunakan sebagai langkah awal menuju kehidupan yang lebih baik, maka hendaknya seseorang terus bergerak mendekat kepada Al-Qur’an, ilmu syar’i, dan dzikir yang disyariatkan.
Mengukur Kondisi Hati
Cara paling sederhana untuk mengetahui posisi nasyid dalam hidup kita adalah dengan mengukur kondisi hati.
Cobalah bertanya:
- Mana yang lebih sering saya dengarkan, Al-Qur’an atau nasyid?
- Mana yang lebih saya hafal, surat Al-Qur’an atau lirik nasyid?
- Mana yang lebih saya nantikan, majelis ilmu atau peluncuran album baru?
- Mana yang lebih menggerakkan hati saya, firman Allah atau syair manusia?
Pertanyaan-pertanyaan ini sering kali memberikan jawaban yang jujur.
Karena hati manusia memiliki kapasitas perhatian yang terbatas.
Apa yang sering diisi ke dalamnya akan menjadi sesuatu yang dominan.
Jika Al-Qur’an menjadi dominan, itu pertanda baik.
Namun jika syair manusia menjadi pusat perhatian sementara Al-Qur’an berada di pinggir kehidupan, maka sudah saatnya melakukan evaluasi.
Jangan Menjadikan Selera Sebagai Dalil
Kesalahan lain yang sering muncul adalah menjadikan perasaan sebagai ukuran kebenaran.
Sebagian orang berkata:
“Saya merasa lebih dekat kepada Allah ketika mendengarkan nasyid.”
Perasaan seperti ini tidak dapat dijadikan dalil syariat.
Sebab ukuran kebenaran bukanlah apa yang kita rasakan, melainkan apa yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya.
Banyak orang merasa tenang ketika mendengarkan berbagai jenis musik.
Sebagian merasa damai ketika berada di tempat-tempat tertentu.
Namun ketenangan perasaan tidak otomatis menunjukkan bahwa sesuatu itu menjadi ibadah yang disyariatkan.
Karena itu, seorang muslim harus membedakan antara:
- Perasaan pribadi.
- Hukum syariat.
Keduanya tidak selalu sama.
Kembali kepada Prioritas
Pada akhirnya, pembahasan tentang nasyid sebenarnya kembali kepada satu kata: prioritas.
Islam telah memberikan prioritas yang sangat jelas.
Yang utama adalah:
- Tauhid.
- Al-Qur’an.
- Sunnah.
- Dzikir.
- Ilmu syar’i.
- Amal saleh.
Sedangkan berbagai sarana pendukung berada di bawahnya.
Ketika urutan ini terjaga, maka seorang muslim akan tetap berada di jalan yang lurus.
Namun ketika sarana mulai menggeser tujuan, maka ketidakseimbangan akan muncul.
Penutup: Dari Nasyid Menuju Al-Qur’an
Jika ada seseorang yang meninggalkan lagu-lagu maksiat lalu beralih kepada nasyid yang liriknya baik, maka itu merupakan langkah yang lebih baik daripada sebelumnya.
Namun perjalanan tidak boleh berhenti di sana.
Seorang muslim tidak diciptakan untuk menjadi pecinta nasyid.
Ia diciptakan untuk menjadi hamba Allah.
Makanan utama hatinya bukan syair manusia, melainkan firman Rabb semesta alam.
Karena itu, sikap yang paling adil adalah menempatkan nasyid pada tempatnya.
Tidak mengharamkan tanpa ilmu.
Tidak pula mengagungkannya melebihi batas.
Jika ia sekadar sarana yang mubah, maka perlakukanlah sebagai sarana.
Jika ia membantu seseorang meninggalkan keburukan, syukurilah.
Namun jangan pernah lupa bahwa tujuan akhirnya bukanlah nasyid, melainkan kedekatan kepada Allah melalui jalan yang benar-benar disyariatkan: Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman para sahabat Nabi ﷺ.
Sebab pada akhirnya, hati yang paling hidup bukanlah hati yang dipenuhi syair manusia, tetapi hati yang dipenuhi Kalamullah.
