Sebuah potongan surat kabar berbahasa Belanda yang beredar di media sosial kembali menarik perhatian publik. Dalam artikel tersebut terlihat judul “Bongkrek-vergiftiging” yang berarti “keracunan bongkrek”, dengan laporan bahwa sekitar 16 orang meninggal dunia di wilayah Poerbolinggo (Purbolinggo/Purbalingga) dan tujuh orang lainnya meninggal di sebuah desa dekat Banjoemas (Banyumas).
Potongan berita lawas tersebut menjadi pengingat bahwa Indonesia pernah menghadapi berbagai peristiwa keracunan massal akibat makanan tradisional yang dikenal sebagai tempe bongkrek.
Apa Itu Bongkrek?
Bongkrek merupakan makanan tradisional yang dahulu dibuat dari ampas kelapa yang difermentasi. Produk ini dikenal sebagai tempe bongkrek dan pernah menjadi sumber pangan murah bagi masyarakat di sejumlah wilayah Jawa.
Namun dalam kondisi tertentu, proses fermentasi yang tidak sempurna dapat memicu pertumbuhan bakteri Burkholderia gladioli pathovar cocovenenans. Bakteri ini menghasilkan racun mematikan yang dikenal sebagai asam bongkrek (bongkrekic acid). Racun tersebut sangat berbahaya karena tidak mudah rusak meskipun makanan dipanaskan atau dimasak kembali.
Tragedi yang Berulang dalam Sejarah
Berdasarkan berbagai catatan ilmiah, kasus keracunan bongkrek telah tercatat sejak akhir abad ke-19 di Pulau Jawa. Sejumlah wabah besar pernah terjadi dan menyebabkan ratusan hingga ribuan korban. Bahkan beberapa laporan menunjukkan tingkat kematian yang sangat tinggi pada korban yang mengonsumsi makanan yang telah terkontaminasi racun tersebut.
Potongan surat kabar yang menyebut wilayah Poerbolinggo dan Banjoemas menunjukkan bahwa kawasan eks Karesidenan Banyumas juga pernah menjadi bagian dari sejarah kelam tersebut. Pada masa Hindia Belanda, nama daerah sering ditulis menggunakan ejaan lama seperti Tjilatjap untuk Cilacap, Banjoemas untuk Banyumas, dan Poerbolinggo yang merujuk pada wilayah Purbalingga saat ini.
Mengapa Racun Bongkrek Sangat Berbahaya?
Asam bongkrek menyerang sistem energi sel tubuh. Racun ini dapat mengganggu fungsi penting di dalam mitokondria sehingga organ-organ vital seperti hati, ginjal, dan otak mengalami kerusakan serius. Gejala yang sering muncul meliputi mual, muntah, sakit perut, diare, lemas, gangguan kesadaran, hingga kematian dalam waktu relatif singkat pada kasus yang berat.
Yang membuat racun ini semakin berbahaya adalah makanan yang terkontaminasi sering kali tidak menunjukkan perubahan rasa, warna, maupun aroma yang mencolok sehingga sulit dikenali oleh masyarakat.
Dari Sejarah Menjadi Pelajaran
Karena tingginya risiko kesehatan, produksi tempe bongkrek akhirnya dilarang di Indonesia. Meskipun demikian, beberapa kasus sporadis masih pernah dilaporkan pada dekade-dekade berikutnya akibat praktik produksi tradisional yang tidak memenuhi standar keamanan pangan.
Potongan berita lawas ini menjadi bukti bahwa masalah keamanan pangan bukanlah isu baru. Sejak masa kolonial hingga era modern, masyarakat terus belajar bahwa proses pengolahan makanan yang aman sangat penting untuk mencegah tragedi serupa terulang.
Jejak Sejarah yang Perlu Diingat
Bagi masyarakat Banyumas, Cilacap, dan Purbalingga, arsip surat kabar ini bukan sekadar berita lama. Ia merupakan bagian dari sejarah lokal yang menunjukkan bagaimana sebuah produk pangan tradisional pernah membawa dampak besar bagi kehidupan masyarakat pada masanya.
Di balik tulisan berbahasa Belanda yang mulai memudar dimakan usia, tersimpan pelajaran berharga tentang kesehatan, keamanan pangan, dan pentingnya ilmu pengetahuan dalam melindungi masyarakat dari bahaya yang tidak selalu terlihat oleh mata.
