Kalau “Ndasmu” Diganti “Your Head”, Apakah Jadi Lebih Sopan?

Bahasa bukan sekadar kumpulan kata. Bahasa adalah cermin sikap, cara berpikir, sekaligus alat yang membentuk budaya. Karena itu, ketika sebuah kata menjadi perdebatan, sering kali yang dipersoalkan bukan hanya makna katanya, melainkan siapa yang mengucapkannya, kepada siapa, dan dalam konteks apa.

Belakangan, publik ramai memperbincangkan penggunaan kata “ndasmu” oleh Presiden Prabowo Subianto dalam sebuah pidato. Sebagian orang menganggapnya sebagai ungkapan khas Jawa yang lumrah digunakan dalam percakapan sehari-hari. Sebagian lainnya menilai kata tersebut kurang pantas diucapkan oleh seorang kepala negara.

Lalu muncul sebuah pertanyaan menarik.

Kalau kata “ndasmu” diganti menjadi “your head”, apakah otomatis terdengar lebih sopan?

Jawabannya: belum tentu.

Masalahnya Bukan Terjemahan

Secara harfiah, ndas berarti kepala. “Ndasmu” dapat diterjemahkan menjadi “your head”. Namun, bahasa tidak bekerja hanya berdasarkan arti kamus.

Dalam bahasa Indonesia, seseorang bisa berkata, “Kepalamu!” dengan nada tertentu. Secara harfiah memang hanya menyebut bagian tubuh. Namun dalam praktiknya, ungkapan itu sering dipahami sebagai bentuk ejekan atau penolakan yang kasar.

Hal yang sama berlaku dalam bahasa Inggris. Kalimat “your head!” bukanlah ungkapan yang otomatis menjadi sopan hanya karena menggunakan bahasa asing.

Artinya, mengganti bahasa tidak otomatis mengubah etika.

Konteks Menentukan Makna

Di Banyumas dan sebagian wilayah Jawa Tengah, kata “ndasmu” memang cukup akrab terdengar. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, ungkapan tersebut sering digunakan dalam dua situasi.

Pertama, ketika seseorang sedang marah atau bertengkar sehingga kata tersebut menjadi bentuk penghinaan.

Kedua, ketika digunakan di antara teman dekat sebagai bahan bercanda. Dalam konteks ini, kedua belah pihak sama-sama memahami bahwa tidak ada niat untuk merendahkan.

Inilah yang disebut konteks.

Namun konteks pidato seorang presiden tentu berbeda dengan obrolan di warung kopi atau candaan antarteman.

Standar Seorang Pemimpin Berbeda

Seorang pemimpin memang manusia biasa. Ia bisa bercanda, marah, bahkan salah bicara. Namun jabatan membawa konsekuensi.

Setiap ucapan pemimpin memiliki daya pengaruh yang jauh lebih besar dibandingkan ucapan masyarakat biasa.

Ketika seorang guru berbicara, murid mendengarkan.

Ketika seorang ustaz berbicara, jamaah menyimak.

Ketika seorang presiden berbicara, satu bangsa memperhatikan.

Karena itu, standar etika seorang pemimpin memang lebih tinggi.

Bukan karena ia harus selalu sempurna, melainkan karena setiap kata yang keluar dari mulutnya berpotensi menjadi contoh.

Bagaimana Jika Anak Meniru?

Bayangkan seorang anak pulang sekolah lalu berkata kepada temannya, “Ndasmu!”

Ketika ditegur orang tuanya, ia menjawab, “Kan Pak Presiden juga ngomong begitu.”

Apakah jawaban itu otomatis membenarkan perilakunya?

Tentu tidak.

Namun contoh tersebut menunjukkan bahwa figur publik memiliki pengaruh yang nyata terhadap cara masyarakat berbicara, terutama anak-anak yang masih belajar membedakan mana bahasa yang pantas digunakan di ruang publik dan mana yang hanya layak dalam pergaulan tertentu.

Keteladanan bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga soal pilihan kata.

Bahasa Mencerminkan Penghormatan

Dalam budaya Indonesia, sopan santun bukan sekadar formalitas.

Cara berbicara menunjukkan penghormatan kepada lawan bicara, kepada jabatan, dan kepada masyarakat yang mendengar.

Bahkan ketika ingin mengkritik dengan keras, masih banyak pilihan kata yang tegas tanpa harus menggunakan ungkapan yang berpotensi menimbulkan kesan kasar.

Pemimpin yang kuat tidak kehilangan kewibawaannya karena berbicara santun. Sebaliknya, banyak pemimpin besar justru dikenang karena mampu menyampaikan kritik tajam dengan bahasa yang terukur.

Penutup

Pada akhirnya, perdebatan ini bukan sekadar tentang satu kata.

Bukan pula tentang apakah “ndasmu” bisa diterjemahkan menjadi “your head”.

Persoalan utamanya adalah keteladanan dalam komunikasi publik.

Bahasa membentuk budaya. Budaya membentuk kebiasaan. Kebiasaan membentuk karakter.

Karena itu, semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk memilih kata-kata yang tidak hanya efektif menyampaikan pesan, tetapi juga mencerminkan penghormatan kepada masyarakat.

Mengganti “ndasmu” menjadi “your head” tidak otomatis membuatnya lebih sopan. Sebab yang dinilai publik bukan sekadar bahasanya, melainkan teladan yang dibangun melalui setiap ucapan.

Baca Juga : https://sudagaran.web.id/kalau-ndasmu-diganti-your-head-apakah-jadi-lebih-sopan/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *