Saran untuk MBS: Jadilah Kaum Anshor Modern

​Di tengah gempuran berita dan lini masa yang dipenuhi air mata dari tanah Palestina, sering kali kita terjebak dalam rasa tak berdaya yang menyesakkan. Kita melihat sebuah bangsa yang terus-menerus terusir, kehilangan hak paling mendasar untuk hidup layak, dan bahkan sekadar untuk bersujud beribadah dengan tenang di tanah kelahiran mereka. Di titik inilah, nalar kemanusiaan kita dipaksa untuk mencari jalan keluar, melintasi batas-batas peta konvensional, dan melahirkan sebuah eksperimen pemikiran (thought experiment) yang berani.

​Bagaimana jika solusi itu ada di kesunyian utara Jazirah Arab?

​Sebuah wacana muncul ke permukaan: Segitiga Haql – Aba al-Hinshan – Al-Humidha. Wilayah yang terletak di barat laut Arab Saudi, berbatasan langsung dengan Yordania dan menghadap ke Teluk Aqaba. Secara fisik, area ini didominasi oleh lanskap pegunungan batu yang gersang dan lembah gurun (wadi) yang terisolasi. Namun, di balik kekerasannya, wilayah ini menyimpan potensi spasial yang luar biasa.

​Membedah Ruang: Mengapa Segitiga Ini?

​Jika kita menarik garis geometris di antara ketiga titik tersebut, kita akan menemukan sebuah hamparan wilayah seluas ratusan kilometer persegi. Di atas kertas, jika dibandingkan dengan Jalur Gaza yang luasnya hanya sekitar 365\text{ km}^2 namun dipadati oleh lebih dari 2 juta jiwa, Segitiga Haql – Aba al-Hinshan menawarkan ruang yang jauh lebih longgar dan manusiawi. Secara matematis, tanah kosong di sini mampu menampung jutaan manusia.

​Tentu saja, alamnya tidak ramah. Aba al-Hinshan adalah puncak gunung batu setinggi 1.237\text{ meter} tanpa sumber air alami. Lembah-lembah di sekitarnya, seperti wilayah jelajah adat suku Al-Umrani, memiliki risiko banjir bandang gurun (flash floods) yang mengintai setiap kali hujan musiman datang.

​Namun, di era modern ini, keterbatasan fisik bukanlah harga mati. Berada di Provinsi Tabuk berarti wilayah ini bertetangga langsung—bahkan beririsan—dengan mega-proyek masa depan Kerajaan Arab Saudi. Teknologi desalinasi air laut raksasa dari Teluk Aqaba, pasokan energi surya yang melimpah, serta jalur logistik internasional yang mapan, secara teknis mampu menyulap “pegunungan batu gersang” ini menjadi sebuah Kota Baru Kemanusiaan.

​Dengan dukungan dana dan bantuan internasional, pemenuhan kebutuhan dasar—air bersih, hunian modular yang layak, dan rantai pasok makanan—bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan.

​Alun Ombak Hijrah dan Kemuliaan Kaum Anshar

​Namun, esensi dari wacana ini bukanlah tentang kalkulasi semen, pipa air, atau rumah kontainer. Esensi sejati dari gagasan ini bermuara pada satu narasi spiritual yang agung dalam sejarah Islam: Peristiwa Hijrah.

​Setiap kali perintah hijrah diturunkan, Allah SWT secara implisit sedang menyiapkan panggung kemuliaan yang mahabesar. Kemuliaan itu tidak hanya diperuntukkan bagi mereka yang berjalan tertatih meninggalkan tanah airnya (Kaum Muhajirin), melainkan disematkan dengan sangat indah kepada mereka yang membuka pintu rumah dan hatinya untuk menyambut (Kaum Anshar).

​Dalam Surah Al-Hasyr ayat 9, Allah mengabadikan sifat Kaum Anshar dengan kalimat yang menggetarkan jiwa:

“…dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.”

 

​Kaum Anshar di Madinah tidak melihat kedatangan ribuan Muhajirin sebagai beban ekonomi, ancaman demografi, atau gangguan stabilitas. Mereka melihatnya dengan mata iman dan cinta. Mereka membelah harta, membagi ruang hidup, dan menyediakan ketenangan agar saudara-saudaranya bisa beribadah dan menyusun kembali peradaban yang bermartabat.

​Jika kita merefleksikannya pada wacana Segitiga Haql – Aba al-Hinshan ini, pihak mana pun yang kelak bersedia menjadi “Anshar Modern”—baik itu para pemimpin yang memegang kedaulatan tanah, suku lokal yang membuka wilayah adatnya, maupun komunitas internasional yang menggerakkan logistiknya—mereka sedang menjemput maqam (kedudukan) kemuliaan yang sama di hadapan sejarah dan pencipta-Nya. Tempat yang awalnya sunyi dan terisolasi, berpotensi bertransformasi menjadi tanah penuh berkah karena di dalamnya ada jutaan manusia yang terselamatkan hidupnya.

​Riak di Atas Teluk, Doa di Atas Nalar

​Apakah ide relokasi kemanusiaan ini akan benar-benar terlaksana? Secara geopolitik nyata, tantangannya luar biasa rumit. Isu kedaulatan negara, sensitivitas hak untuk kembali (Right of Return) warga Palestina ke tanah asli mereka, hingga diplomasi internasional adalah labirin yang sangat pekat.

​Mungkin, ide ini terdengar utopis. Mungkin, secara kalkulasi politik, ini tidak akan pernah mewujud dalam waktu dekat.

​Namun, biarlah wacana ini dilemparkan seperti sebuah batu ke tengah telaga yang tenang.

​Meskipun batunya tenggelam ke dasar yang dalam dan tak terlihat lagi, kita tahu bahwa alun ombak dan riaknya akan terus berjalan, bergerak, melebar, hingga akhirnya menyentuh dan mengetuk tepian hati. Ia menjadi pengingat yang hidup bagi kita semua bahwa di suatu sudut bumi, ruang fisik itu sebenarnya ada. Yang kita butuhkan hari ini adalah ruang di dalam hati manusia.

​Pada akhirnya, di atas segala analisis geopolitik dan keterbatasan nalar manusia, kita bersandar pada keyakinan penuh. Allah-lah sang Muqallibal Qulub—Dzat yang membolak-balikkan hati. Dialah yang memegang kendali atas hati para pemimpin, para pengambil kebijakan, dan setiap manusia di bumi ini. Jika Dia menghendaki pertolongan-Nya turun, maka gunung batu yang paling gersang sekalipun bisa diubah-Nya menjadi tempat perlindungan yang paling aman dan penuh berkah.

​Kita hanya bertugas melemparkan riak pemikiran dan melangitkan doa. Semoga riaknya sampai ke tepian hati mereka yang mampu membuat perubahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *