Di tengah derasnya arus informasi, perbedaan pendapat politik, dan berbagai persoalan yang dihadapi bangsa, ada satu amalan sederhana yang sering terlupakan: mendoakan pemimpin.
Sebagian orang begitu mudah menghabiskan waktu untuk mengeluh, mengkritik, bahkan mencela para pemimpin. Di sisi lain, tidak sedikit yang merasa tidak memiliki daya untuk mengubah keadaan sehingga memilih bersikap apatis. Padahal, dalam ajaran Islam terdapat jalan yang lebih baik, yaitu mengiringi harapan akan perbaikan dengan doa yang tulus.
Dari semangat inilah lahir gerakan #AllahummaAshlihWulataUmurina.
Kalimat ini berasal dari bahasa Arab:
اللهم أصلح ولاة أمورنا
yang berarti:
“Ya Allah, perbaikilah para pemimpin urusan kami.”
Doa ini mencerminkan sebuah kesadaran bahwa pemimpin memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat. Ketika seorang pemimpin diberikan petunjuk, keadilan, kebijaksanaan, dan kejujuran, maka manfaatnya akan dirasakan oleh banyak orang. Sebaliknya, ketika pemimpin melakukan kesalahan atau penyimpangan, dampaknya juga dapat dirasakan secara luas.
Karena itulah, mendoakan pemimpin bukanlah bentuk dukungan buta terhadap setiap kebijakan. Bukan pula sikap pasif yang menolak kritik dan masukan. Sebaliknya, doa adalah bentuk kepedulian. Kita berharap agar mereka yang memegang amanah kepemimpinan senantiasa diberikan kemampuan untuk menjalankan tugasnya dengan baik.
Gerakan #AllahummaAshlihWulataUmurina tidak dibangun di atas kepentingan politik, partai, kelompok, ataupun tokoh tertentu. Gerakan ini terbuka untuk semua kalangan yang menginginkan kebaikan bagi bangsa dan masyarakat.
Yang didoakan bukan hanya presiden atau pejabat negara. Pemimpin dalam kehidupan kita sangat banyak. Ketua RT, pengurus masjid, kepala sekolah, pimpinan organisasi, kepala desa, bupati, gubernur, hingga pemimpin negara, semuanya memikul amanah yang memengaruhi orang lain. Semakin besar amanah yang diemban, semakin besar pula kebutuhan mereka terhadap pertolongan dan bimbingan Allah.
Melalui gerakan ini, masyarakat diajak untuk membiasakan diri menyisipkan doa bagi para pemimpin dalam keseharian. Bisa setelah shalat, dalam doa keluarga, saat pengajian, atau pada kesempatan-kesempatan lainnya.
Gerakan ini juga mengingatkan bahwa perbaikan negeri tidak hanya lahir dari tuntutan kepada para pemimpin, tetapi juga dari perbaikan diri masyarakat. Pemimpin dan rakyat merupakan bagian dari satu ekosistem yang saling memengaruhi. Ketika masyarakat memperbaiki akhlak, kejujuran, kepedulian sosial, dan ketakwaannya, maka hal tersebut turut menjadi sebab hadirnya kebaikan dalam kehidupan berbangsa.
Di tengah perbedaan pilihan politik dan pandangan yang beragam, doa memiliki kemampuan untuk menyatukan. Orang boleh berbeda pendapat mengenai banyak hal, tetapi hampir semua sepakat bahwa kita membutuhkan pemimpin yang jujur, amanah, adil, bijaksana, dan berpihak kepada kemaslahatan rakyat.
Karena itu, gerakan #AllahummaAshlihWulataUmurina bukanlah gerakan untuk membungkam kritik, melainkan mengingatkan bahwa selain memberikan masukan dan pengawasan yang baik, umat juga memiliki tanggung jawab moral untuk mendoakan para pemimpinnya.
Bayangkan jika jutaan orang setiap hari memanjatkan doa yang sama:
اللهم أصلح ولاة أمورنا
“Ya Allah, perbaikilah para pemimpin urusan kami.”
Sebuah doa yang singkat, namun mengandung harapan yang besar. Harapan agar para pemimpin diberi petunjuk ketika menghadapi kebingungan, diberi keberanian ketika harus menegakkan keadilan, diberi kejujuran ketika memegang amanah, serta diberi kekuatan untuk mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi dan golongan.
Pada akhirnya, gerakan ini mengajak kita untuk menjadi bagian dari solusi. Tidak hanya mengamati dari kejauhan, tidak hanya mengomentari, tetapi juga turut berkontribusi melalui doa yang tulus.
Mari bersama menghidupkan budaya mendoakan pemimpin.
Mari menyebarkan harapan, bukan kebencian.
Mari menguatkan doa untuk kebaikan negeri.
#AllahummaAshlihWulataUmurina
Ya Allah, perbaikilah para pemimpin urusan kami.
